Jumat, 29 April 2011

TANAH HUJAN DI PEKARANGAN


Malam ini terasa lebih hening, hanya suara kipas pendingin laptop yang terdengar. Entah karena hawa dingin bekas hujan tadi sore yang menyelinap ke kamar ini dari sela sela lubang ventilasi. Aku selalu tertarik dengan aroma tanah yang tersiram air hujan. Terlalu banyak memori yang tersimpan di dalamnya. Entah sudah berapa puluh kali umur ini ku habiskan melewati musim hujan. Dan aroma tanah basah malam ini semuanya begitu jelas. Tiap tetesan nya mengirimkan potongan potongan kecil ingatan masa lalu. Terlintas dalam pikiran ini sosok aku kecil berlari bersama teman teman kecilku dalam hujan, kita masih amatlah muda, berlari dalam balutan tanah lumpur mengejar perginya air hujan. Perlahan ku perhatikan teman kecil ku satu persatu dalam lari kecil mereka. Canda tawa dalam kepolosan. Entah kemana mereka sekarang. Wajah mereka memudar. Kehidupan hanya menjadikan mereka pelengkap tawa masa kecilku.Ya Tuhan, Aku merindukan wajah wajah itu. Dan aku merasa kehilangan mereka sekarang.


Dan aroma tanah tersiram hujan itu pula lah yang selalu menempel di sepatu bapakku kalau dia pulang larut malam. Sepatu pantofel hitam kumal. Dibawah solnya sudah terlalu banyak benang yang dipaksakan disulam supaya sepatu itu tetap utuh. Aku tahu bapakku sangat membanggakan sepatu itu dihadapan temannya, karena ku tahu dia tak pernah mampu membeli yang baru.

Aroma tanah basah ini terasa makin kuat. Saat ku coba menutup jendela, potongan peristiwa itu kembali melintas. Bayangan saat bapak harus pulang larut malam. Ditemani sebuah sepeda motor tua membuatnya harus mengalah dengan derasnya hujan, berteduh tangannya lekat memegang kantong plastik hitam membiarkan sang waktu memanjakan hujan turun. Aku tahu bapak tak mau martabak kacang yang hanya beberapa potong itu mengembang basah karena hujan walau dia di dera lapar. Ya betul, setiap bapak gajihan dia selalu membeli martabak kacang. Aku pun tahu ketika adikku hanya membiarkan martabak itu dingin, adikku menangis melihat kawannya semua bersepeda. Dan ayah hanya terdiam, dari matanya yang berkaca kaca aku tahu betapa dia ingin mewujudkan keinginan adikku, bibirnya hanya terdiam. Di saat ayahku tak bisa memilih aku malah tega masih sempat meminta nya untuk memeriksa keperluan sekolahku, aku tahu daftar itu sebetulnya tidaklah semuanya penting buatku dan hanya menambah rapat bibirnya, dari nafas panjangnya kusadari itu adalah sebuah beban. Bekerja di pabrik tidaklah seberapa, tapi aku tahu bagaimana rasanya bapak tak bisa memilih. Semuanya hening, hanya suara tangan bapak mengorek pisau membersihkan sepatunya dari kotoran tanah sisa hujan, dari bibirnya yang bergetar dan matanya yang berkaca kaca aku tahu bahwa ketegaran hidup adalah pelajaran hidup. Kadang semua bapak tutupi. Seperti saat itu, dengan senyum kecil memberikan uang belanja untuk emak sambil memakan martabak yang sudah di angetin dan dibersihin emak, martabak yang tadi di lempar adikku. Emak pun mencium tangan bapak sambil memegang erat uang itu, haruslah erat karena emak tahu hanyalah lima hari uang itu hadir di hidupnya. Aku pun belajar dari emak , seperempat dompetnya berisi uang dan sisanya berisi harapan.

Kini, aroma basah hujan hadir begitu jelas, sejelas lintasan bayang wajah almarhum bapak dalam kegelapan kamarku dan dalam alunan musik ini. Sejenak aku alihkan pandanganku dari layar laptop. Aku melihat dia, Dengan bibirnya yang bergetar. Aku merindukan wajah itu. Wajah yang sering kami kecewakan. Dan aku merasa kehilangan sekarang

Aku tahu aku akan selalu menangis membayangkan nya, ku alihkan pandangan ini ke tempat tidurku. Tertidur wajah lelah istriku, hujan sore tadi menghentikan letihnya. Dalam wajah secantik itu aku tahu tak semestinya dia hidup sekeras sekarang. Aku tahu banyak hal yang dia lakukan untukku namun selalu bibir ini berkata itu tak pernah cukup. Aku seharusnya tahu wajah lugu itu menyadarkan akan sebuah keegoisan.

Wajah lelah itu pula yang dulu menyembuhkan aku akan rasa sakit yang berkepanjangan, dan wajah yang mengingatkanku bahwa aku seharusnya bersyukur dihadirkan makna baru sebuah kesetiaan, sebuah rasa yang lama aku tak pernah temukan. Maafkan aku sayang. Dan aku tak ingin merasa kehilangan kamu sekarang.Dari bau tanah terkena basah hujan ini pula aku tahu rasanya sebuah kehilangan.

Hmmmmh.. segarnya tanah hujan kembali memasuki kamar ini, aroma yang dulu sering membuat ku berlari keluar rumah bersama teman teman kecilku mengejar hujan, aroma yang dulu sering membuatku menangis melihat bapak. Dan kini, aroma ini, lagu ini, mengingatkanku bahwa aku punya seseorang yang sangat menyayangiku.

Ya Tuhan, terimakasih kau telah mengingatkanku dalam cara yang sederhana. Sebuah pelajaran tentang kehilangan. Waktu adalah sebuah buku dimana aku menempelkan sebuah kisah. Dan tempelan itu amatlah mudah lepas dan isinya memudar. Dan Engkau hanya menghadirkan setitik rasa, aroma tanah yang terkena hujan dan semua tempelan itu kembali terbaca.

Thanks to : " Mochammad Fauzan "

0 komentar: